by

Perang Hak Cipta AI vs. Kreativitas: Pilihan Sulit untuk Inggris

banner 468x60

Perang Hak Cipta AI vs. Kreativitas: Pilihan Sulit untuk Inggris

Pendahuluan

 

Perang Hak Cipta AI vs. Kreativitas: Pilihan Sulit untuk Inggris – Dalam sorotan konflik antara kecerdasan buatan dan industri kreatif, artikel ini membahas peran krusial Rishi Sunak dalam memutuskan arah masa depan Inggris. Apakah negara ini akan terus mendukung industri kreatif yang telah menjadi tulang punggung ekonominya, atau malah mempertaruhkan semuanya demi kecanggihan kecerdasan buatan? Ketegangan antara hak cipta dan pelatihan AI semakin terasa, dan dengan gugatan dari New York Times dan Getty Images, pilihan sulit ini menantang paradigma tradisional pembangunan teknologi. Mari telaah bersama bagaimana keputusan Sunak akan membentuk peta jalan inovasi di masa depan. 

 

Isi konten

 

Dalam sebuah pernyataan yang mempertegas pentingnya kebijakan yang akan datang, kepala eksekutif Getty Images, Craig Peters, menyatakan bahwa Rishi Sunak perlu membuat keputusan kritis: apakah ia akan mendukung industri kreatif Inggris atau mempertaruhkan semuanya demi perkembangan kecerdasan buatan.  

Peters, yang telah memimpin perpustakaan gambar terkemuka sejak tahun 2019, mengeluarkan pernyataan tersebut di tengah meningkatnya kemarahan dari sektor kreatif dan media terhadap penggunaan karya mereka sebagai “data pelatihan” oleh perusahaan kecerdasan buatan. Getty Images sendiri telah menggugat sejumlah pembuat gambar AI di Inggris dan AS atas dugaan pelanggaran
hak cipta.
 

Perang Hak Cipta AI vs. Kreativitas: Pilihan Sulit untuk Inggris

Industri kreatif Inggris menyumbang sekitar 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut, termasuk di dalamnya film, musik, dan televisi. Peters berpendapat bahwa melakukan trade-off dengan mempertaruhkan pada kecerdasan buatan, yang saat ini hanya menyumbang kurang dari seperempat poin PDB Inggris, adalah suatu keputusan yang membingungkan. 

Baca Juga:  Samsung Galaxy A70 Masuk Kelas Menengah Ke Atas 2024

 

Pada tahun 2023, pemerintah Inggris menetapkan tujuan untuk “mengatasi hambatan yang saat ini dihadapi oleh perusahaan dan pengguna
AI” dalam menggunakan materi berhak cipta. Ini sebagai respons terhadap konsultasi dari kantor kekayaan intelektual, dengan komitmen untuk mendukung perusahaan AI “untuk mengakses karya berhak cipta sebagai masukan ke model mereka.”
 

 

Pendekatan ini merupakan langkah mundur dari proposal sebelumnya mengenai pengecualian hak cipta yang luas untuk penambangan teks dan data. Viscount Camrose, rekan turun-temurun dan wakil menteri luar negeri di parlemen untuk kecerdasan buatan dan kekayaan intelektual, mengatakan bahwa pemerintah akan mengambil pendekatan yang seimbang dan pragmatis untuk mendukung sektor kreatif
sambil memastikan posisi Inggris sebagai pemimpin dunia dalam bidang kecerdasan buatan.
 

 

Pertanyaan mengenai penggunaan materi berhak cipta untuk melatih sistem kecerdasan buatan semakin mendapat tekanan. Di AS, New York Times menggugat OpenAI dan Microsoft karena menggunakan beritanya sebagai bagian dari data pelatihan. Meskipun OpenAI tidak mengungkapkan data yang digunakan untuk melatih GPT-4, hal ini menunjukkan betapa pentingnya materi berhak cipta dalam pengembangan AI. 

 

Getty Images, bekerja sama dengan Nvidia, telah menciptakan AI generasi gambarnya sendiri, yang dilatih secara eksklusif pada citra berlisensi. Ini menjadi tantangan terhadap argumen bahwa teknologi tersebut tidak dapat dikembangkan tanpa persyaratan lisensi. 

 

Perang Hak Cipta AI vs. Kreativitas: Pilihan Sulit untuk Inggris
Perang Hak Cipta AI vs. Kreativitas: Pilihan Sulit untuk Inggris

Dalam sebuah insiden menarik, kumpulan data eBook bajakan bernama Books3 diam-diam dihapus setelah protes dari penulisnya. Meskipun pergeseran ini menunjukkan perubahan dalam etika penggunaan data, tindakan hukum terus dilakukan terhadap perusahaan AI atas potensi pelanggaran dalam data pelatihan mereka. 

Baca Juga:  Perkembangan Teknologi di HUT RI ke-78: Inovasi dan Dampaknya

 

John Grisham, Jodi Picoult, dan George RR Martin adalah di antara 17 penulis yang menggugat OpenAI pada bulan September dengan tuduhan “pencurian sistematis dalam skala besar.” Sementara itu, sekelompok seniman mengajukan gugatan terhadap dua pembuat gambar pada bulan Januari tahun lalu. 

 

Pengaturan penggunaan materi berhak cipta untuk melatih sistem AI mungkin tidak memberikan solusi final. Sejumlah model AI telah dirilis secara open source, menyediakan materi untuk diunduh, dibagikan, dan digunakan kembali tanpa pengawasan. Larangan terhadap penggunaan materi berhak cipta tidak akan menghapusnya dari internet, dan individu masih dapat menggunakan materi baru
untuk melatih, meningkatkan, dan merilis ulang di masa mendatang.
 

 

Peters tetap optimis bahwa tanggung jawab atas penggunaan materi berhak cipta tetap ada. Meskipun pengadilan dan pemerintah memiliki peran dalam mengatur hal ini, individu yang memproduksi dan mendistribusikan kode AI juga memiliki tanggung jawab atas tindakan mereka. Sebuah masa depan di mana teknologi berkembang seiring dengan kewajiban hukum dan etika adalah tantangan yang harus dihadapi bersama. 

 

Kesimpulan

 

Kesimpulan dari perdebatan ini mencuat sebagai titik fokus utama, di mana Rishi Sunak dihadapkan pada keputusan krusial. Pertarungan antara industri kreatif yang telah lama menjadi identitas Inggris dan lonjakan kecerdasan buatan yang menjanjikan memunculkan dilema yang memerlukan kebijakan yang seimbang. Pemerintah Inggris, melalui kebijakan tahun 2023, mencoba menemukan tengah jalan dengan mengatasi hambatan penggunaan materi berhak cipta untuk pelatihan AI. Namun, perjalanan ke depan masih sarat dengan ketidakpastian,
terutama dengan tuntutan hukum dari pelaku industri seperti Getty Images dan New York Times.
 

 

Perang Hak Cipta AI vs. Kreativitas: Pilihan Sulit untuk Inggris

 

Baca Juga:  Xiaomi Luncurkan Uji Coba HyperOS 2.0, Siap Gantikan MIUI dengan Inovasi Baru

Catatan Positif – Negatif

 

Di satu sisi, dukungan terhadap kecerdasan buatan diharapkan dapat membawa revolusi teknologi yang signifikan, memperkuat posisi Inggris sebagai pemimpin dunia dalam bidang AI. Namun, di sisi lain, risiko merugikan industri kreatif yang telah lama menjadi pilar ekonomi Inggris tidak dapat diabaikan. Keputusan ini memang menuntut keseimbangan antara mengakui potensi kecerdasan buatan dan menjaga kelestarian serta kontribusi industri kreatif yang telah terbukti. Tantangan untuk menggandeng kedua sektor ini dalam harmoni menjadi kunci bagi masa depan teknologi dan kreativitas Inggris.

Clickadu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *